Posted on

Fakta Menakjubkan Tentang Wudhu

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mutiara hadits…Bila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu’, dia membasuh muka, maka dari wajahnya akan keluar dosa-dosa yg dilakukan oleh wajahnya, ketika membasuh kedua tangannya, akan keluar pulalah dosa-dosa yg dilakukan oleh kedua tangannya, bila dia membasuh kedua kakinya, akan keluar pulalah dosa dan kesalahan yg dilakukan kedua kakinya, sehingga dia bersih dari noda dan dosa (HR. Muslim)

Sahabat Hikmah…
Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater dan sekaligus neurology berkebangsaan Austria, menemukan sesuatu yang menakjubkan terhadap wudhu. Ia mengemukakan sebuah fakta yang sangat mengejutkan.

Bahwa pusat-pusat syaraf yang paling peka dari tubuh manusia ternyata berada di sebelah dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat syaraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar. Dari sini ia menemukan hikmah dibalik wudhu yang membasuh pusat-pusat syaraf tersebut. Ia bahkan merekomendasikan agar wudlu bukan hanya milik dan kebiasaan umat Islam, tetapi untuk umat manusia secara keseluruhan.

Organ tubuh yang menjadi anggota wudlu disebutkan dalam QS al-Maidah [5]:6, adalah wajah, tangan sampai siku, dan kaki sampai mata kaki. Dalam hadis riwayat Muslim juga dijelaskan bahwa, air wudlu mampu mengalirkan dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh mata, penciuman, pendengaran, tangan, dan kakinya, sehingga yang bersangkutan bersih dari dosa.

Dengan senantiasa membasuh air segar pada pusat-pusat syaraf tersebut, maka berarti orang akan memelihara kesehatan dan keselarasan pusat sarafnya. Pada akhirnya Leopold memeluk agama Islam dan mengganti nama menjadi Baron Omar Rolf Ehrenfels.

“Kami akan memperlihatkan AYAT-AYAT (TANDA-TANDA) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri ssehingga JELASlah bagi mereka Al-Quran adalah BENAR.” (QS Fushilat:53)

Posted on

Keluar Zona Nyaman… Yakin Bisa!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

“Dimana ada keinginan, disitu pasti ada jalan” Itulah yg selalu memotivasi saya setiap hari. Semestinya anda semua juga begitu. Kadang2 aneh….ini sering diartikan sebagai pemaksaan pada diri orang2 yg tdk mau maju, senang pada zona nyaman, tdk mau berpikir dan berupaya lebih. Menyalahkan, berbicara terlalu kasar, tdk ada etika, dll dll. Tapi kita harus menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan kita mutlak ditentukan oleh kerja keras kita. Kita harus mau dirubah oleh orang lain sepanjang kita mau untuk menjadi lebih baik.

Anda bisa bayangkan: tukang pande besi bekerja untuk mengolah besi batangan menjadi sebuah pisau/keris yg menarik, indah dan disenangi oleh semua orang dan dipajang dalam etalase yg membanggakan ?
Itu hanya terjadi dengan benturan palu godam yg besar, dibakar dg api dengan suhu yg tinggi, dan diasah dengan gerinda yg kasar dan bising serta keras dan tajam berputar mengikis …..maka lama kelamaan besi batangan menjadi pisau/keris yg baik dan indah serta tajam.
Begitulah guru/atasan/pimpinan atau orang lain yg peduli dengan masa depan anda, berbuat untuk pembentukan karakter anda.

Kembali ke “Dimana ada keinginan, disitu pasti ada jalan” saya meminta semua harus mau saling menerima kelemahan, memperbaiki yg kurang serta tertinggal, dan mau berubah untuk tunjukkan prestasi terbaikmu.

Saya sangat yakin, tidak ada atasan/pemimpin yg memusuhi anda karena kekurangan anda. Yang ada adalah pemimpin yang merindukan bekerja seperti tukang pande besi yang ingin selalu mengajak anak buah, memecut dan menggiring anak buah untuk mampu bekerja lebih baik. Sehingga goal-goal yg diinginkan semua bisa dicapai.

Anda semua adalah pemimpin, dan dengan kerendahan hati saya mengajak kita semua untuk mau maju dan berubah serta “Dimana ada keinginan, disitu pasti ada jalan”.

Tunjukkan bahwa hari ini, anda semua “akan memberikan kualitas pekerjaan terbaik anda mulai hari ini dan seterusnya, sehingga kualitas buah, OER, akan berubah menjadi 24 % dan terus meningkat setiap harinya mencapai sasaran budget 25%, karena anda telah berjanji dalam hati anda sendiri untuk berubah.

“Dimana ada keinginan, disitu pasti ada jalan”

Selamat bekerja

Salam Hangat

IGA BAGUS W

Posted on

Teori Jendela dan Cermin

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

“You are either living in the problem or you are living in the solution. – Anda hidup dengan persoalan dan solusi itu sendiri.”
~ Bob Proctor

Nasihat tentang hidup dalam solusi tercermin dalam teori jendela dan cermin. Kedua benda tersebut memiliki makna tersendiri sebagai solusi kehidupan yang luar biasa. Keduanya merupakan cara untuk menghadapi manis dan pahit getir kehidupan menjadi solusi mendapatkan dan menikmati keindahannya.

Contoh, kita sedang memiliki penghasilan besar, posisi dalam pekerjaan cukup kuat dan mapan, keluarga yang menyenangkan, memiliki investasi besar dan menguntungkan, dan lain sebagainya. Terlebih pada saat yang sama, semua kendali bisnis berjalan cukup baik dan lancar. Tak hanya itu, kita juga menerima pujian dan tepukan kekaguman dari orang-orang di sekeliling kehidupan kita.

Semua itu benar-benar menempatkan kita di puncak kesuksesan, dimana kita diperlakukan seakan-akan seorang raja dan memiliki segala yang diinginkan sebagian besar manusia di muka bumi ini. Tetapi tak jarang pada posisi demikian kita menjadi sombong dan merasa paling hebat. Kita mulai melupakan asal-usul dan peran orang-orang yang selama ini sangat berjasa.

Padahal menyombongkan diri hanyalah membuat kita kehilangan makna hidup. Sebelum hal itu terjadi pada kita, cepat-cepatlah membuka pintu jendela. Dari jendela tersebut kita akan segera melihat alam yang terbentang luas atau bintang yang terlihat gemerlap meski letaknya jauh di angkasa. Sedangkan diri kita begitu kecil dibandingkan dengan keberadaan mereka. Diri kita terlalu tak berarti dibandingkan kekuasaan Tuhan YME yang dapat kita lihat dari kemegahan alam semesta dan gemerlap bintang di angkasa ciptaan-Nya.

Itulah saat yang paling tepat untuk menyadari tak satu pun dalam diri kita yang layak untuk disombongkan. Tindakan tersebut setidaknya akan membantu kita merendahkan hati dan segera bersyukur kepada Tuhan YME serta menghargai orang-orang yang telah berjasa atas segala kesuksesan yang kita miliki entah dalam bentuk doa, surat, bantuan dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, langkah tersebut juga akan mendorong kita untuk lebih memperluas wawasan hidup.

Sebaliknya, bila kita sedang tak bersemangat, karena semua usaha gagal atau tantangannya terlalu sulit, maka kita melihat kehidupan ini gelap tak berarti dan sangat menyakitkan. Kita mulai menyalahkan orang lain. Bukannya sibuk berusaha lebih keras, tetapi kita akan cenderung sibuk mencari kesalahan orang lain.

Sebelum bersikap negatif saat kita menghadapi kenyataan hidup yang pahit, segeralah mengambil sebuah cermin dan memandang sesosok manusia di dalamnya. Bila kita memandangnya lebih seksama, dialah orang yang paling penting dalam kehidupan kita. Dialah orang yang paling bertanggung jawab menciptakan segala kebaikan maupun keburukan, suka maupun duka dalam kehidupan kita.

Dengan bercermin selain melihat kelebihan, diri kita juga akan melihat kesalahan dan kebodohan yang selama ini kita lakukan. Bila kita mampu menertawakan kesalahan dan kebodohan diri sendiri, maka hal itu akan menjadi semangat hidup. “It is a great art to laught at your own misfortune. – Seni yang paling bernilai adalah menertawakan ketidakberuntungan diri sendiri,” sebut sebuah pepatah bijak.

Contoh ketika kita berkaca, lalu melihat ada yang tidak beres dengan letak kancing pakaian yang kita kenakan. Maka kita akan segera membetulkan posisi tersebut. Sama seperti bila kita ‘berkaca’ dalam arti introspeksi diri, tindakan tersebut akan memberikan manfaat yang luar biasa jika diikuti dengan upaya nyata memperbaiki kualitas dan sikap diri.

Teori jendela dan cermin mengungkap bagaimana menjadikan faktor kelebihan maupun kekurangan sebagai sesuatu yang bermanfaat untuk mendapatkan pelajaran kehidupan. Konsep dalam teori jendela dan cermin mengajari kita bertindak konstruktif dan berpikir positif atas berbagai macam situasi yang kita harus hadapi.

Teori tersebut menginspirasi kita mulai menghitung efektifitas waktu yang telah kita gunakan untuk berbuat kebaikan dan mulai menentukan skala prioritas serta menciptakan kebiasaan yang positif. Karena kehidupan ini terlalu indah dan berharga untuk kita salah gunakan atau bahkan kita sia-siakan.[aho]

* Andrew Ho adalah motivator, pengusaha, dan penulis buku best seller.

Posted on

A Journey of Learning: Curiosity, Research, Action.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Experienced Non-Expert: Pengalaman tidak selalu mengajarkan kita jadi ahli: Mengapa tante kita telah memasak selamat tiga puluh tahun, tetap saja masakannya tidak enak?… Atau kenapa guru SMA kita sudah mengajar 20 tahun tetap saja membosankan kalau mengajar?… Bukankah mereka berpengalaman?… Kalau bukan pengalaman, apa yang membuat orang menjadi ahli?…

Coba bayangkan bila, tante kita itu punya rasa keingintahuan tinggi: Sebenarnya memasak soto yang enak itu bagaimana ya? Kenapa anak2 sukanya makan di soto Pak Sadi, dan rawon Setan, dan nasi Bu Rudi? Lalu tante me-riset, apa saja kira2 yang harus ditambah kurangi, mulai mencoba memasak, meninta keponakan2 mencoba dan mengkritik, memperbaiki lagi masaknya dengan beberapa bumbu tambahan dan mencoba lagi, lagi, lagi. Walaupun mungkin tidak akan seenak Pak Sadi, rawon Setan atau Bu Rudi, saya yakin setelah 2 tahun saja masakannya akan jauh lebih enak daripada sekarang.

Pengalaman tidaklah membuat kita jadi ahli, pengalaman membuat kita terbiasa. Padahal pada jaman ini, kecuali kita jadi ahli, kita sulit bersaing dengan kompetitor kita. Dunia sudah menjadi kompleks, kita akan cepat tertinggal tanpa memperbaiki diri secara terus menerus. “Bisa” saja tidak cukup, kita harus jadi “hebat”.

Segala kemajuan jaman diawali dengan “curiosity”, rasa keingintahuan untuk menjadi lebih mengerti, lebih tahu, lebih paham. Semua manusia dilahirkan dengan DNA ini, semua kemajuan jaman didorong oleh ini. Dari pemahaman bulan purnama, waktu menanam padi, menjaring ikan dilaut, media cetak, sampai internet. Sering “curiosity” kita mati dibunuh kesibukan yang berdatangan terus.

“Curiosity” dilanjutkan dengan “Research”, riset tentang hal2 yang berkaitan dengan apa yang ingin kita temukan, seperti tante kita mungkin harus kepasar melihat2 bahan, harus telpon teman2nya tanya, dan diselesaikan dengan “Action”, tindakan2 yang nyata. Kalau tante tahu, tapi tidak mencoba, bagaimana dia berhasil memasak soto yang enak, rawon yang nikmat?

Universitas Kehidupan, memberikan kesempatan kepada semua individu untuk belajar dan maju dalam bidang apa saja yang dimauinya. Hanya dibutuhkan “Curiosity, Research, Action” yang memadai untuk menjangkau apa saja yang kita inginkan. Untuk bidang pilihan apa saja yang kita memang mau.

Saya teringat almarhum Pak Teja, guru fisika SMA yang mengajar dengan jelas dan cerdas dan menarik, yang masih saja belajar sampai menjelang akhir hayatnya. Dan saya terlupa berpuluh guru yang tidak juga mau belajar untuk “mengajar dengan baik”, yang tidak punya “passion” ketika mengajar, yang jiwanya telah mati, dan hanya mengulang kata2 tanpa arti di depan kelas, dan kita semua mengantuk mulai membenci kata “belajar” dan “sekolah”.

Dalam batas tertentu kita diberi bakat untuk sebuah pekerjaan, tapi hasil riset terakhir mencatat bahwa faktor “deliberate practice” lah yang membuat orang menjadi hebat.
Bakat hanya memberi sedikit pemacu “booster”, sedangkan mesin penggerak kemajuan kemampuan kita adalah “Action”, tindakan2 berupa “latihan yang berkelanjutan”. Latihan yang membuat kita menjadi lebih baik, yang harus kita lakukan secara terus menerus.

*Tanadi Santoso